Saturday 8 March 2014

CERPEN: Miss Invisible



MISS INVISIBLE

“Dik…”
Dreaming about the day when you wake up
And find what you’re looking for
Has been here the whole time
“Dik buka pintunya.” Aku menekan tombol pause pada layar ponselku lalu dengan langkah gontai aku membuka pintu yang sedari tadi diketuk dengan tidak sabar oleh mas Andri.
“Kenapa?” Tanyaku dengan suara lirih. Bisa-bisanya mas Andri mengacaukan kegiatanku tadi, bergalau bersama penyanyi papan atas sekelas Taylor Swift.
“Ada Cakka tuh nyariin kamu.” Jawab mas Andri. Mendengar namanya di sebut saja sudah membuat jantungku jungkir balik kesana kemari. Mau apa lagi sih anak itu, kurang puas dia mengiris-iris hatiku? Jangan-jangan dia ingin menaburkan cuka di atas luka hatiku yang belum kering ini.
“Bilang saja Icha sedang tidur.” Maaf saja, aku tidak akan rela membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti hatiku lebih dalam lagi.
“Mas nggak mau berbohong.”
“Ya sudah aku mau tidur sekarang, jadi mas kan nggak bohong.” Ucapku cuek. Sambil mendorong mas Andri keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan kasar, menandakan aku sedang tidak ingin diganggu.
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Rasa sesak itu masih menggerogoti dadaku, sakit. Kutekan tombol play, terdengar suara indah Taylor Swift mengalun memenuhi setiap sudut kamarku. Lagu ini begitu cocok dengan keadaanku sekarang. Aku meresapi setiap lirik dari lagu yang katanya diciptakan Taylor Swift berdasarkan pengalaman pribadinya ini, menikmati alunan indahnya hingga mengantarku ke alam mimpi.

If you could see that I’m the one who understands you
Been here all along so why can’t you see, you
You belong with me
You belong with me..
(You belong with me – Taylor Swift)
***                              
            Aku mempercepat langkah kakiku melewati koridor perpustakaan, jalan ini memang sedikit lebih jauh dari pada melewati lorong kelas sebelas IPA untuk mencapai kelasku. Namun aku tidak ingin bertemu atau sekedar berpapasan dengan dia. Aku menghembuskan napas lega setelah dengan selamat tiba di kelasku tanpa melihat sosoknya. Tapi sepertinya keberuntungan tidak sedang berpihak padaku. Aku melihatnya duduk di bangkuku. Dia sedang tertawa ceria bersama Shilla, sahabatku yang sejak tiga bulan yang lalu juga merangkap status sebagai pacar dari sahabat dekatku. Aku menghirup udara banyak-banyak, memasang topengku lagi seolah semua ini benar dan keadaan baik-baik saja seperti biasanya.
            “Pagi.” Sapaku ceria, namun sepertinya di antara mereka berdua tidak ada yang menyadari keberadaanku. Mereka masih menertawakan sesuatu yang ditunjuk Shilla di layar ponselnya. Ingin sekali kubanting ponsel canggih itu sekedar untuk mengembalikan mereka ke dunia ini, menyadarkan mereka kalau di sini bukan hanya ada mereka berdua.
            “Eh.. Hei Cha. Udah lama? Sini deh liat, foto kamu pas SMP. Lucu banget loh!” Shilla yang tidak sengaja mengalihkan pandangannya dari ponsel akhirnya yang pertama menyadari keberadaanku. Dia menarikku melihat ke arah ponselnya. Aku terdiam, ini foto yang diambil ketika aku masih berseragam putih-biru. Dalam foto itu terlihat aku yang sedang memonyongkan bibirku dengan jari telunjuk di depannya. Foto ini di ambil dari sudut atas, aku masih ingat betul siapa yang mengambil gambar ini. Dia adalah seseorang yang sedang tertawa puas sambil memgangi perutnya di depanku, ya dia adalah Cakka. Aku masih bergeming, mungkin dalam keadaan normal aku akan bertingkah seperti mereka, menertawakan ini sampai mengeluarkan air mata, tapi sekarang berbeda.
            “Lucu apanya, alay iya. Hahaha..” Celetukan dari Cakka seperti ini kerap kali aku terima, biasanya aku tidak pernah marah dengannya namun sekarang berbeda. Segalanya berbeda. Aku berbalik arah berniat ke kamar mandi sebelum air mataku merembes jatuh. Meninggalkan mereka yang entah kurang peka dengan sikapku atau mereka memang sudah tidak peduli lagi dengan aku.
***
Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan       
Kau buat remuk seluruh hatiku
            Aku menaiki angkot yang salah. Biasanya angkot yang kunaiki sekarang ini akan memutarkan lagu-lagu beraliran Rock Metal di jam-jam pulang sekolah seperti sekarang, namun hari ini berbeda. Mungkin aku sudah berlinang air mata jika mendengarkannya sendirian duduk di pojokan kamar.
Semoga akan datang keajaiban hingga akhirnya kaupun mau
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu
            Aku merasa sedang diejek oleh lantunan lagu ini. Shilla pernah bilang kalau aku adalah perempuan yang kadang tidak berperasaan. Kami sering menonton film drama bersama dan Shilla pasti akan membutuhkan tisu yang sangat banyak. Walaupun film masih setengah jalan Shilla sudah menghabiskan seperempat isi tisu persediaan dikamarku, sedangkan aku? Menyentuh box tisupun tidak kulakukan sampai film selesai, sampai semua pemerannya matipun tidak akan aku menangisinya.
            Aku melangkah keluar dari angkutan sejuta umat itu, ku ayunkan langkah menuju toko yang sejak seminggu yang lalu sudah menarik perhatianku.
            “Icha..” Panggil sebuah suara yang taka sing lagi untukku, Shilla. Dia masih mengenakan seragamya, tumben dia tidak diantar Cakka. “Cha, kamu udah janji mau nganterin aku beli kado buat Cakka kan? Kenapa kamu duluan?”
            “Oh, maaf Shil aku lupa. Sekarang kamu mau cari kado? Yuk aku temenin.” Aku menariknya ke dalam toko yang bernuansa ungu ini. Dari luar terlihat toko ini menarik, masuk kedalam toko ini akan lebih menarik lagi.
Aku menuju lorong kedua yang menyediakan berbagai macam miniatur mobil. Aku melirik harga dari miniatur mobil Rolls Royce Ghost berwarna putih tulang yang pernah di idam-idamkan Cakka. Aku tersenyum sinis menatap bandrol yang menampilkan tujuh digit angka dengan angka dua di depannya,  pantas saja Cakka tidak mau membelinya. Beralih pada Toyota Land Cruiser 200 dengan dua varian warna yaitu hitam dan putih yang berkesan anggun dan sederhana, tapi tidak sesederhana harganya. Walaupun lebih murah dibanding Rolls Royce Ghost tadi namun tetap saja Toyota Land Cruiser 200 membuatku malas melihat tujuh digit angka di depan kardusnya. Aku mengabaikan Honda NSX-R berwarna merah yang sebenarnya keren itu, meyakini kalau harganya jauh lebih mahal dibanding dua mobil sebelumnya. Ya Tuhan… Apa semua harga miniatur mobil sama seperti harga ponselku? Aku menggerutu kesal menyadari uang yang kubawa sangat pas-pasan.
“Ichaaa…” Shilla tiba-tiba berada di sampingku dengan muka yang tampak putus asa. “Aku bingung mau kasih hadiah apa ke Cakka.” Dia memandangku penuh harap, mengharapkan aku memberi tahunya apa yang sedang Cakka ingin dapatkan.
Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal sambil memasang tampang orang bingung, yang mungkin tidak tampak seperti orang yang sedang kebingungan. “Aku juga nggak tahu nih Shil, aku sendiri bingung mau kasih dia apa.”
“Memang dia suka apa sih? Atau dia sedang mengoleksi sesuatu mungkin?” Tanya Shilla melirik ke arah kumpulan miniatur mobil yang tadi sempat aku lihat. “Aku pengen banget kasih dia sesuatu yang spesial Cha.”
Aku sebenarnya tidak rela mengatakan ini, aku tidak mau dia juga memberikan benda yang sama denganku. Tapi Shilla adalah sahabatku sejak duduk di bangku SMA, Shilla sering membantuku. Aku menimang-nimang untuk mengatakan sesuatu yang sedang Cakka inginkan pada Shilla, “Em.. Cakka itu pengoleksi miniatur mobil. Dia pernah ngomong ke aku kalau dia lagi nabung buat beli Rolls Royce Phantom Extended Wheel Base.” Ujarku menyebut nama mobil yang kuyakini masih ada hubungan kekerabatan dengan Rolls Royce Ghost tadi.
“Oke. Aku mau beli itu.” Ujar Shilla ceria. Aku menatapnya miris, mungkin dia tidak tahu semahal apa harganya. Bahka mobil itu jauh lebih mahal dibanding saudaranya, Rolls Royce Ghost.
“Harganya tiga juta.” Celetukku, menghapus binar ceria di mata Shilla. Aku juga pesimis, kalau miniatur mobil itu sudah di pasarkan di Indonesia. Shilla menatapku seakan mengatakan –Emang-ada-seonggok-mobil-yang-cuma-miniatur-doang-semahal-itu-. Aku mengedikkan bahu dan Shilla berteriak putus asa.
“Aku kan cuma bawa uang tiga ratus ribu Cha.” Ujar Shilla lirih. Parah! Bahkan uang yang kubawa saja lebih banyak dari dia.
“Ya sudah cari mobil lain aja.” Aku memberikan pilihan lain untuknya. Kemudian aku dan Shilla kembali mencari miniatur mobil dengan harga sesuai isi dompet kami. Aku harus mencari kado lain, padahal sudah dari dulu aku ingin memberi miniatur mobil untuk Cakka di hari ulang tahunnya agar bisa ia pajang di kamarnya. Aku ingin selalu diingat Cakka melalui miniatur mobil yang aku beri untuknya, namun sekarang semua bayangan itu harus ku hapus sesegera mungkin.
“Cha, liat deh.. keren kan? Harganya juga lumayan murah.” Shilla memperlihatkan sebuah miniature mobil yang berbandrol lima angka nol dibelakang angka empat, lumayan murah.
“Murah. Tapi Cakka udah punya yang itu, Range Rover Evoque 2011 warna merah.”
“Kamu sepertinya tahu banyak tentang Cakka.” Kata-kata Shilla sedikit membuatku tersipu. Aku mengenal Cakka luar dalam. Aku tahu semua yang berhubungan dengan Cakka sebaik aku mengetahui garis tanganku sendiri. Kami sudah saling mengenal sejak lahir, delapan belas tahun hidupku dihabiskan bersama Cakka. Tapi ternyata waktu selama itu tidak cukup untuk membuat perasaannya menjadi secampur-aduk perasaanku terhadapnya. Perasaannya terhadapku konstan, tenang, statis, diam dan tidak pernah berubah, tetap menganggapku hanya sebagai sahabat dekatnya.
Aku mengambil Lamborghini Gallardo Superleggera yang berada di ujung rak, ini merupakan jenis Lamborghini stok terakhir yang ada di sini. Aku tersenyum puas melihat bandrol yang menampilkan angka empat di depan lalu di ikuti lima digit angka berbeda dibelakangnya. Cakka belum mempunyai jenis ini, aku yakin. Warna mobil ini Grigio Telesto, warna yang mirip abu-abu sangat berbeda dengan warna-warna mobil yang biasa ditampilkan yaitu hitam, merah, putih tulang, biru atau kuning. Cakka pasti suka.
***
            Aku menatap nanar sebuah kado mungil berwarna hijau di depanku, merasa pesimis bahwa Cakka akan menyukainya. Kado ini tidak mewah dan tidak pula memiliki kesan yang berarti. Aku sedikit menyesal membelikan ini untuk Cakka. Kado ini ide dari mas Andri, meniru kado yang pernah dibelikan mba Alya untuknya dua tahun yang lalu.
            “Mas, aku nggak yakin ah mau kasih kado ini. Malu-maluin aja.” Ucapku lirih.
            “Udah lah, kan yang penting kadonya bermanfaat. Dari pada kamu kasih kado mewah tapi cuma buat pajangan nganggur di rumah kan sayang.” Ujar mas Andri tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari gadget mungilnya. Aku menarik napas panjang sebelum beranjak dari tempat duduk, yeah aku harus pergi ke pesta ulang tahun Cakka dan memberikan kado ini. Tidak ada yang salah dengan kado ini. Aku harus selalu berpikir positif.
            “Eh.. eh.. Cha, bawa apaan tuh?” suara mas Andri menghentikan langkahku.
            “Ini?” Aku mengacungkan sebuah amplop warna hijau mentereng di depannya.
            “Masih jaman pake surat? Warna ijo lagi nggak ada kesan romantisnya banget sih.” Aku terus melangkah, menghiraukan tawa mas Andri yang menggema.
            Rumah Cakka sudah ramai, banyak teman-teman Cakka yang juga merupakan teman-temanku di sini. Aku sedikit gugup untuk menghampiri Cakka yang sedang mengobrol bersama Shilla dan teman-teman lainnya.
            “Hai Icha.” Cakka lebih dulu menyadari keberadaanku. Aku berusaha tersenyum di depan Cakka dan teman-temanku.
            “Selamat ulang tahun ya Kka, nggak nyangka kamu udah setua ini. Tahun depan aku nggak ada di sisi kamu saat kamu ulang tahun lagi, aku pasti akan kangen sama kamu.” Ujarku jujur. Rasanya air mataku akan turun jika sekali saja aku mengedipkan mata ketika Cakka memelukku erat, pelukan persahabatan.
            “Aku yang akan lebih kangen sama kamu. Kita harus sering-sering berkomunikasi ya Cha.” Ucap Cakka setelah dia melepas pelukannya. Sekarang aku benar-benar tidak bisa menahannya, air mataku turun tanpa dikomandoi lagi. “Jangan nangis dong, Cha. Sebentar lagi acaranya di mulai.”
            Aku memaksakan seulas senyuman untuk Cakka, berusaha menikmati acara ini sampai selesai. Malam ini aku akan memperhatikan dengan seksama bagaimana sosok Cakka, menatapnya lama-lama lalu menyimpannya baik-baik di memori otakku. Sehingga jika perasaan rindu sedang merayapi hati, aku bisa dengan mudah menyibak memori-memori tentang Cakka.
            Aku memandang kagum sosoknya yang sedang meniup lilin dengan bentuk angka 18, masih terpesona dengan caranya memotong kue, tersenyum dengan tingkahnya yang jenaka ketika memberikan kue pertama kepada ibu dan ayahnya lalu tiba-tiba hatiku hancur terhempas badai ketika potongan berikutnya ia berikan kepada Shilla. Sehancur apapun hatiku sekarang, aku tetap tersenyum melihatnya yang sedang berjalan ke arahku dan memberikan kue yang entah merupakan potongan keberapa.
            “Terimakasih untuk menjadi sahabat baikku selama ini, Icha.” Bisiknya yang langsung membuatku seperti terhempas ke bawah jurang yang terjal, aku hanyalah sahabat baiknya. Namun anehnya aku masih tersenyum memandangnya dan tetap tersenyum melihatnya yang sedang berbalik lalu berjalan menjauh menuju Shilla.
            Aku berdiri canggung sendirian di antara keramaian dan hingar bingar pesta di sekitarku. Aku sedang malas bersosialisasi dengan teman-temanku. Yang ingin aku lakukan sekarang hanya meringkuk di bawah selimut lalu memutar lagu metal dengan volume maksimal.
            “Cha.” Panggil seseorang yang suaranya sudah sangat ku hapal. “Makasih ya kadonya, kado dari kamu memang paling useful banget.”
            “Cakka kalau bohong jelek banget.” Ujarku merasa tersinggung.
            “Bener deh. Kamu tahu aja ya, kalau aku sedang butuh kamus bahasa Perancis. Vocab aku kurang banget Cha. Makasih ya.” Aku langsung meleleh melihat senyum tulus dan pujiannya. Aku selalu tahu tentang kamu, Cakka. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan pendapatnya mengenai kado yang diberi Shilla –yang merupakan kado pilihanku-, namun aku menahannya untuk tidak menanyakan hal itu pada Cakka.
            “Cha aku dapet surat Cinta deh sepertinya.” Jantungku berdegup dua kali lipat melihat amplop hijau yang di acungkan olehnya. Aku harap Cakka tidak menyadari hal ini.
            “Cieee, nggak ngerasa jadul?” Tanyaku menggodanya.
            “Enggak. Ini romantis kali.” Jawabnya tegas. Tubuhku terasa ringan dan seperti melayang mendengar kata-katanya. “Aku suka banget suratnya, tapi sayangnya si pengirim no name gitu Cha, aku penasaran sama dia. Nih baca.” Cakka menyodorkan sebuah surat berwarna hijau kepadaku. Aku menerimanya dengan senyum yang mengembang cerah di wajahku. Bukan hanya bibirku yang melengkung indah tapi juga hatiku yang bertaburan bunga.
Aku ada tapi aku tidak terlihat oleh matamu.
Aku di sisimu tapi takkan bisa teraba oleh tanganmu.
Dan aku ada sejak kamu bahkan belum mengenal aku. Karena aku… cinta.
Sesuatu yang terlalu asing untuk kamu dan aku.
Selamat ulang tahun, C!
                                                            Miss Invisible, your nearest admirer.
           

No comments:

Post a Comment